Antara Desa dan Kota

Oleh: Silogisme
December 31, 2011

Bagi mahasiswa dikota–kotabesar, mungkin merasakan apa yang pernah saya rasakan.

Saya berasal dari suatu desa yang tenteram di kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Desa yang tenang, sunyi sepi, sampai suara derasnya air sungai pun terdengar. Udaranya bersih dan masyarakatnya begitu harmonis. Saya tinggal di sini selama kurang lebih 7 tahun. Oh, 7 tahun yang tidak akan pernah lupa seumur hidup. Banyak sekali pelajaran hidup dan tata cara bermasyarakat  yang saya dapat dari sini. Jangan sangka di desa tidak ada apa-apanya. Desa adalah tempat dimana banyak terdapat nilai – nilai kehidupan, dan nilai – nilai moral dan etika yang dipegang teguh.

Sebelumnya saya tinggal di Pasuruan, Jawa Timur, di daerah elit para pegawai pabrik gula PTPN XI. Saya dan teman – teman sesama anak pegawai merasa exclusive dan terhormat. Anak – anak yang tinggal di sekitar lingkungan perumahan pegawai, kami sebut “anak kampung”. Kami tak pernah, atau bahkan tak mau bergaul dengan “anak kampung” itu. Selamanya kami terkotak-kotakkan di lingkungan pabrik. Yang membuat kami merasa berbeda adalah tubuh dan baju kami bersih, sedangkan mereka dekil. Bahasa mereka kasar, sedangkan kami tak terbiasa berbicara kasar. Orang tua kami juga menyuruh untuk menjauh dari mereka, karena mereka membawa pengaruh “jelek”. Entah, karena masih kecil, saya pun ikut terseret  pada pola pikir tak baik seperti itu.

Sampai suatu hari, saya pindah ke Ponorogo dan menjadi anak kampung yang sebenarnya.

Saya sekarang kuliah di salah satu kota besar di Indonesia, Bandung, Parijs van Java. Setelah menetap sekian lama, saya rasa hampir tidak ada perbedaan kultur antara kampung halaman dengan lingkungan kos. Etika dan sopan santun sangat dijunjung tinggi sebagaimana bangsa Timur lainnya. Keramah-tamahan begitu terasa, terutama bagi mahasiswa pendatang baru. Namun ada suatu kejadian yang membuat saya tersadar. Pernah suatu hari seorang anak TK datang ke masjid sendirian. Kemudian dia ditegur oleh imam masjid untuk segera pulang ke rumah.

“Siapa yang suruh ke masjid? Kalau sholat, sholat saja dulu di rumah.”

Rupanya sang imam takut kalau – kalau si anak ini akan bikin kegaduhan sebagaimana anak kecil lainnya. Akhirnya si anak menurut dan pulang.

Tanpa tedeng aling – aling, demi kekhusyukan ibadah jamaah, sang imam bertindak tegas. Hal seperti ini tak pernah saya lihat di desa dulu. Beberapa orang tua bahkan sengaja membawa anaknya ikut serta ke masjid. Tak pelak anak – anak kecil itu membikin kegaduhan ketika jamaah sedang sholat. Uniknya, tidak ada jamaah yang marah! Mereka memaklumi tingkah laku anak kecil yg memang demikian. Setelah sholat bahkan ada jamaah yang bercengkerama dan bersendagurau dengan anak kecil tersebut!

Sungguh sebuah rasa toleransi yang begitu tinggi.

Dalam hidup bermasyarakat, rasa toleransi atau tenggang rasa mutlak diperlukan. Apalagi kita hidup tidak berkawan sesama Muslim saja to, atau Kristiani, Hindu, Buddha saja to? Toleransi membuat hidup di NKRI tersayang ini terasa indah. Kalau tidak ada toleransi, wah… konflik terus kita. Mungkin kejadian kampus ITB di demo kemarin akan terjadi di kampus – kampus lainnya. Semua karena sudah tidak ada toleransi lagi untuk kampus –kampus “pendiam”. Alangkah mulianya bertoleransi, karena dengan begitu kita mengorbankan “sedikit” kepentingan kita untuk orang lain. Oh, ayolah, bukankah ini sudah diajarkan sejak bangku sekolah? Tak perlu lah dibahas lebih jauh lagi.

Kategori: Catatan Hidup | RSS 2.0 | Beri Komentar | trackback

1 Komentar

Beri Komentar

:D :-) :( :o 8O :? 8) :lol: :x :P :oops: :cry: :evil: :twisted: :roll: :wink: :!: :?: :idea: :arrow: :| :mrgreen: